Benteng Keraton Wolio Sebagai Saksi Sejarah Kebesaran Kesultanan Buton

Benteng Keraton Wolio merupakan benteng yang dibangun pada abad ke-16. Benteng ini memiliki luas sekitar 23,375 hektar dengan panjang 2,75 km sehingga mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Pada tahun 1634, benteng wolio mulai dikerjakan secara gotong royong oleh rakyat. Benteng Keraton Wolio diselesaikan dalam waktu 10 tahun (1634 – 1644).

Konon katanya benteng ini dibuat menggunakan batu kapur yang direkatkan dengan putih telur. Salah satu yang sangat bersejarah dalam pembuatan benteng adalah WA Ode Wau, hal ini karena harta bendanya habis terjual untuk menopang penyelesaian benteng. Pada saat pembuatan benteng banyak rakyat yang kelaparan, karena tidak sempat lagi mengerjakan kebunnya.

Benteng Keraton Wolio memiliki 3 komponen yaitu benteng (batu tondu molele) gerbang (lawa), dan bastion (baluara).

Benteng merupakan tembok pertahanan, memiliki tinggi yang berbeda, dan menghubungkan antara bastion (baluara), gerbang (lawa) merupakan gerbang masuk ke Benteng Keraton Wolio, ada terdapat 12 pintu masuk (lawa) pada Benteng Keraton/ Wolio. Bastion (baluara) merupakan tempat menyimpan amunusi (badili/meriam), sekaligus tempat pemantauan dan penjagaan. Terdapat 16 baluara pada Benteng Keraton Wolio .

Setiap lawa mempunyai nama dan bagian kiri dan kananannya ditempatkan meriam-meriam pengawal (Djarudju, 2009).

Dahulu benteng ini merupakan benteng pertahanan untuk Kesultanan Buton namun seiring perkembangan zaman kini menjadi objek wisata dengan suguhan pemandangan Kota Baubau dari ketinggian.

Comments

Popular posts from this blog

Masjid Agung Keraton Kesultanan Buton

Tradisi Unik Ziarah Kubur di Kesultanan Buton yaitu Santiago